Mahasiswa Pecinta Qur'an
Agustus 2017.
Pertama kali bertemu dengan Salah satu Mahasiswa Statistik Jakarta. Sebut saja namanya Za. Panggilan saya kepada dia diambil dari nama aslinya. Kami bertemu di Masjid kampus setelah shalat maghrib berjamaah. saat itu sedang ada kajian yang cukup meramaikan isi masjid sampai diluar pelataran, Subhanallah. Banyak masyarakat dan juga mahasiswa yang menghadiri kajian tersebut.
Za menceritakan tentang kondisi aktivitas harian dia dan teman-teman di Rumah Qur'an yang memang khusus diselenggarakan untuk Mahasiswa Statistik yang saat itu tidak begitu banyak. Za menjadi salah satu mas'ul pada program di RQ. Awal cerita, Za dan beberapa teman-temannya di RQ Statistik ingin menyelenggarakan Open Recruitment (Oprect) untuk Mahasiswa yang menjadi Penghafal Qur'an. Menjadi salah satu mas'ul atau penanggung jawab kegiatan tersebut memang butuh tantangan. Karena anak muda jaman sekarang lebih senang dengan aktivitas yang lebih ke arah duniawi dan belum lagi mereka yang aktif di beberapa lembaga di kampus. Jadual yang bentrok dengan aktivitas beberapa lembaga, membuat yang hadir pun dapat dihitung dengan jari. Salah satu tujuan menyelenggarakan acara tersebut adalah Pengkaderan agar Rumah Qur'an itu tetap berjalan tiap tahunnnya. Singkatnya cerita, saya diundang untuk menjadi salah satu pembicara pada Oprect tersebut. Ternyata yang hadir adalah mereka dari berbagai daerah. Cukup menjadi tantangan untuk berhadapan dengan orang-orang baru dari berbagai daerah.
Mengemas oprect dengan mengadakan kegiatan (Talk Show Qur'an) bersama Ustadzah Mastia Lestaluhu, S.Sy Qori'ah Nasional dan Internasional cukup bergengsi beliau. Karena mengharumkan nama bangsa pada tatanan Internasional. Ya, dia salah satu sahabat saya. Alhamdulillah, sejak sekian lama tak berjumpa, dan Allah pertemukan saat itu.
Menjadi kader militan, tangguh, dan berjuang untuk dakwah yang diajarkan Rasulullah SAW sudah menjadi sunnatullah yang bahkan menjadi wajib untuk dijalankan. Karena kita semua manusia yang ada di bumi ini adalah khalifah. Ya minimal khalifah untuk diri sendiri. Menata hidup yang baik untuk mencapai pucak akhir dari kehidupan ini di hari pembalasan.
Kembali membahas mahasiswa Statistik. Awalnya tidak percaya. Tetapi inilah yang terjadi. Karena saya yang orangnya suka bertanya bahkan pertanyaan yang terlau masuk kepada privasi seseorang hahaha Istilahnya "kepoin orang". Sebenarnya bukan itu sih tujuan saya, biar terjadinya komunikasi yang baik dan juga tentunya menambah teman. Ya, minimal memiliki teman atau sahabat soleh. Siapa tahu dia menjadi saksi atas diri kita di akhirat. Rata-rata mereka memiliki keinginan besar yaitu menjadi Penghafal Qur'an. Ahlul Qur'an, menjadi keluarganya Allah di bumi. Tentunya persiapan untuk akhirat mereka. Masih nggak percaya, sebab nama kampus saja Umum, dan setahu saya, pasti tidak begitu religius Mahasiswanya. Inilah saya, yang terlalu kepo, sehingga berjalannya waktu, tahu juga siapa makhluk-makhluk yang berada di Kampus yang namanya tak ada Islamnya sedikit pun. Ya, Statisti biasa kan yang berhubungan data atau seperti sensus penduduk. Mereka akan di gembleng menjadi manusia yang mengabdi untuk Bangsa ini. Mendata seluruh peningkatan Masyarakat Indonesia. Salah satunya ya itu tadi Sensus Penduduk, Inflasi dan lain-lain. Tak begitu banyak tahu tentang pekerjaan mereka.
Masih nggak percaya. Setelah mengisi Acara Talk Show Qur'an di sebuah masjid yang disana terdapat juga Hafizh Cilik. Pas Sholat duhur dan ashar tiba bertemu dengan anak-anak itu. Hampir seluruh Masjid diisi oleh anak-anak kecil itu itu. Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama.
Alhamdulillah dari hasil Oprect dapatlah Mahasiswa yang dipilih Allah berjumlah 20 orang untuk menjadi Mahasiswa Rumah Qur'an Statistik.
Tugas saya tidak sampai pada mengisi Talk Show Qur'an saja. Tetapi ditugaskan lagi sama Za untuk menjadi bagian dari mereka. Menyimak hafalan mereka dan Belajar untuk memperbaiki bacaan dan Makhrojul Hurufnya. Menjadi tantangan bagi saya. Yang masih nggak percaya adalah ternyata diantara mereka telah memiliki berbagai macam jumlah hafalan. Ada yang 5 juz, 4, juz, 3 juz, 2 juz , dan 1 juz. Subhanallah. Mereka yang sibuk, masih meluangkan waktu untuk bercumbu dengan Ayat-ayat Allah. Saya hanya berkata dalam hati "this is amazing". Lalu bagaimana dengan mereka yang lainnya? Ketika hidup penuh dengan ujian, lalu putus asa dari rahmat Allah yang begitu Maha luas ini. Kasih sayang Allah yang tak ada batasnya. Sampai kapan pun kita sebagai manusia akan terus diuji. Berbagai macam cara Allah memberikan rasa cinta-Nya kepada manusia. Hanya saja, kita sebagai manusia yang tak tahu dan tak pandai bersyukur atas semua nikmat yang telah ditetapkan sejak masih dalam kandungan.
Bagi saya, mereka adalah Mahasiswa yang ingin menyiapkan dirinya untuk hari akhiratnya. Mereka berlomba untuk tetap berada pada lingkaran cinta itu. Lingkaran yang terus dibacakan ayat-ayat suci itu (Al Qur'an). Lingkaran yang tentunya Malaikat mengililingi mereka dan mendoakan mereka. Mereka, Mahasiswa yang punya target-target dan harapan besar untuk diri mereka dan Bangsa ini. Mereka sadar, bahwa menjadi bagian dari para penghafal Al Qur'an tentu banyak PR yang harus dihadapi. Tetapi begitulah Allah memiliki cara tersendiri untuk mencintai manusia.
Saya bersyukur atas nikmat yang besar ini. Allah begitu Maha Agung karena masih memberikan rasa cinta berupa ujian dan juga kesenangan tak lain dan tak bukan untuk menguji manusia menambah ketaatan pada-Nya. Jangan pernah menyerah dari jalan ini.
Allahu'alam...
Komentar
Posting Komentar